Wednesday, January 23, 2008

Antara karyawan, pengusaha dan keluarga.

Tampak nyata kilas balik kehidupan... ketika saya sekeluarga masih tinggal di Jakarta selama 11 tahun (1990-2001) dan berstatus sebagai karyawan.

Meskipun tinggal dalam satu rumah, saya jarang bercengkerama dengan anak-anak.
Saya belum bangun tidur di pagi hari ketika anak-anak berangkat sekolah, dan anak-anak sudah tidur ketika saya tiba di rumah, sepulang berkarya sebagai karyawan.

Praktis dapat bercengkerama dengan anak-anak hanya di hari Sabtu dan Minggu, itupun dalam waktu yang tidak lama, karena saya lebih sering memanfaatkan waktu libur untuk tidur, agar stamina tetap terjaga untuk memulai rutinitas di hari Senin.

Sungguh... suatu siklus menjadi karyawan yang melelahkan dan memasung kebebasan jiwa, namun harus saya jalani sebagai suatu "proses" menuju dream menjadi pengusaha.

Hubungan dengan anak makin kurang akrab karena tuntutan tugas sebagai Financial Controller, yakni sering travelling keliling Indonesia mengontrol financial proyek2 yang dikerjakan perusahaan.

Dalam satu bulan rata-rata travelling 3 kali @ 4 hari, jadi dalam satu bulan minimal 12 hari berada di luar kota.
Sungguh kondisi yang membuat saya "guilty feeling" terhadap anak-anak, karena tidak mampu menyisihkan waktu untuk anak serta tidak dapat optimal dalam memberikan perhatian dan kasih sayang kepada anak.

Tidak heran apabila saya sering konflik dengan isteri karena perbedaan "treatment" mengasuh anak.
Saya cenderung "short cut" dengan memanjakan anak, sehingga apapun yang diminta anak selalu dituruti (sepanjang masih logis dan mampu, menurut ukuran saya).

Inikah salah satu bentuk excuse untuk rasa "guilty feeling" saya ??
It's my mistakes and... blunder !!!
Seharusnya bukan materi... namun perhatian dan kehangatan kasih sayang.

Alasan keluarga ini pula yang menjadi salah satu akselelator untuk pindah kuadran menjadi pengusaha.

Di samping alasan dream menjadi pengusaha dan bebas finansial di saat pensiun 2010.
Namun pada saat menjalani "proses pengusaha" muncul problem baru yang belum saya antisipasi, yakni pada saat sudah hijrah ke Jogya dan lebih banyak waktu untuk berkumpul dan bercengkerama dengan anak2.

Saya tidak menyadari sepenuhnya, bahwa seiring bertambahnya waktu... anak2 sudah tumbuh menjadi remaja... suatu periode di mana anak2 mencari jati dirinya sendiri, yang tentu saja sudah tidak mau lagi diatur dengan pakem semasa masih anak kecil.

So what... ??? Saat ini saya sering kesepian di rumah, celoteh riang anak2 sudah tidak ada lagi... anak2 sudah mempunyai dunianya sendiri... dunia remaja yang penuh warna... dunia yang sering tidak dimengerti dan terasa tidak pas ketika saya menjadi orang tua (padahal saya juga pernah menjadi remaja... hik..!!).
Apa yang saya harapkan ketika sudah menjadi pengusaha agak berbeda dengan dream saya... jiwa yang bebas memang OK... namun anak-anak kecil saya sekarang sudah tumbuh menjadi remaja....yang sudah tidak mau di-gendong2 lagi, karena :
anak2 lebih suka hang out dengan gang-nya....yang sudah tidak mau ditemani kalo tidur, karena anak2 lebih senang ditemani MP3 player.....yang sudah tidak mau dibacain dongeng lagi, karena anak2 lebih senang baca Harry Potter...

Puji syukur kepada Allah... karena masih ditemani isteri tercinta yang selalu setia menemani perjalanan hidup... yang siap menampung keluh kesah semua problema... yang selalu menjaga amanah dan penuh kasih sayang dalam menjaga dan mendidik anak2, terlebih di saat sering saya tinggal travelling ke luar kota.

Saya sungguh semakin menghormati isteri... pengorbanan luar biasa dari isteri, yang selalu menemani suami ketika meniti karir karyawan... yang menjadi partner hebat dalam mengelola bisnis pengusaha... yang selalu menjadi inspirasi dahsyat di dalam Keluarga.

No comments: