Sunday, December 30, 2007

Dari karyawan menjadi pengusaha (3).

Pada bulan November 1999 saya juga memulai bisnis ke 7 di Klaten, Jawa Tengah. Inilah cikal bakal bisnis yang kelak menjadi "flag carrier", saya mulai mengenalkan brand BETIGA... wahana aktivitas profesi saya sebagai pengusaha !!!
Bidang usaha yang pertama kali dikelola Betiga adalah jual beli sapi potong dan bisnis diawali dengan skala kecil dahulu, bahkan belum punya kandang sapi sendiri, jadi sapi masih dititipkan di kandang milik famili.
Wow... ada yang lebih heboh, Modal berupa uang yang saya keluarkan pertama kali adalah Rp 900.000,-Yuupp betul... Sembilan Ratus Ribu Rupiah saja.Jumlah tersebut dipakai untuk biaya pasang 1 line "nomor cantik" PSTN (telephone dari Telkom) sebesar Rp 400.000,- dan Rp 500.000,- digunakan sebagai panjar pembelian 1 ekor sapi potong yang berharga Rp 3.500.000,-
Seminggu kemudian, pada saat saya akan melunasi pembelian sapi, cihuy... famili yang mengurus sapi memberi informasi, bahwa sapi yang akan saya lunasi tersebut malahan sudah laku terjual sebesar Rp 4.150.000,-So... saya yang seharusnya melunasi kekurangan pembayaran sapi sebesar Rp 3.000.000,-, eh... saya malah menerima transfer uang sebesar Rp 4.150.000,- dari hasil penjualan sapi.
Alhamdulillah.... dapat keuntungan Rp 650.000,- (dihitung dengan kaidah Akuntansi) dari penjualan perdana bisnis sapi.Namun apabila dilihat dari Arus Kas, hmm beda banget... di mana ada Arus Kas Masuk sebesar Rp 4.150.000,-, sementara Arus Kas Keluar hanya sebesar Rp 900.000,- (uang panjar sapi + pasang telpon), sehingga terjadi Arus Kas Positif sebesar Rp 3.250.000,-
Saya selalu tersenyum apabila teringat transaksi perdana ini... saya "serasa" pengusaha kelas kakap... ha...ha...ha... karena saya hanya melakukan :1. Via telpon (posisi saya di Jakarta, famili saya di Klaten), yakni dari informasi tentang adanya penawaran sapi yang dijual di bawah harga pasar, pengambilan keputusan agar sapi dibeli, sampai pada keputusan sapi setuju dijual.2. Via ATM, yakni pada saat transfer untuk pembayaran uang panjar sapi + biaya pasang telpon, serta pada saat menerima hasil penjualan sapi.
Seiring berjalannya waktu, bisnis sapi potong mulai tumbuh kembang dan pada titik ini saya mulai membuat "blunder" akibat mindset karyawan masih kental banget.
Saya TIDAK SABAR... saya ingin SHORT CUT... saya tidak mau mengikuti PROSES... saya ingin serba INSTANT...Saya mestinya mengasah mindset pengusaha... saya seharusnya detoksifikasi mindset karyawan yang sudah puluhan tahun mengendap di sekujur jiwa... saya mestinya meninggalkan "comfort zone" karyawan...
Dan saya malah nekad mengambil keputusan untuk mulai merambah ke bisnis sapi perah... bisnis padat modal dan memerlukan keahlian khusus dalam merawat hewan.Alasan utama saya pada waktu itu adalah penjualan sapi potong tidak dilakukan setiap hari, melainkan sebulan paling banyak dua kali transaksi.Sedangkan penjualan pada bisnis sapi perah terjadi setiap hari, yakni dari susu sapi yang diperah setiap pagi dan sore.
Well... perjalanan babak belur dimulai, yakni sebagian besar hasil susu sapi dijual kepada pabrik susu bubuk ternama via KUD dengan harga jual "minim" yang sudah dipatok dari pabrik susu tersebut.
Derita makin bertambah karena pembayaran dari KUD dilakukan dua minggu sekali, sehingga membuat arus kas menjadi kembang kempis untuk menutup biaya pakan sapi dan upah langsung tenaga kerja.
Sedangkan sebagian kecil susu perah dijual bebas dengan harga jual yang "lumayan" kepada pelanggan2 Rumah Tangga sebagai pemakai langsung.Hasil penjualan susu kepada pelanggan Rumah Tangga cukup membantu arus kas harian untuk menopang biaya pakan sapi yang lumayan besar.
Denyut bisnis yang "berkesinambungan" mulai saya rasakan, meskipun saya masih berstatus sebagai karyawan.Saya sangat "menikmati dunia amphibi" saya, yakni seorang karyawan yang merangkap sebagai pengusaha.
Melihat prospek bisnis sapi yang "menggiurkan" tersebut, saya mulai serius menyiapkan rencana resign sebagai karyawan. Apalagi pada waktu itu, tahun 2000, buku Rich Dad Poor Dad karya Robert Kiyosaki sedang "booming" di Jakarta, yang membuat saya semakin termotivasi untuk pindah kuadran.
Pada waktu itu saya memakai "topeng", meskipun saya tahu bisnis sapi perah mengalami "bleeding" arus kas, namun saya pura2 tidak merasakannya.Saya gengsi mengakui kegagalan bisnis lagi di hadapan keluarga dan teman2.... saya tetap mempertahankan bisnis sapi perah tersebut, walaupun setiap bulan harus menambal arus kas yang compang camping !!!
Dan kemudian tibalah saatnya saya jatuh terhempas ke jurang yang paling dalam.... yang akan saya sharingkan dalam artikel "Dari karyawan menjadi pengusaha bagian ke 4".

No comments: